Mobil Tua dan Janji yang Tak Sempat Dipenuhi
Angin sore meniupkan debu dari aspal tua kawasan Kebon Jeruk. Ravo, sopir lepas dari Sky White Rent Car, baru saja menurunkan penumpangnya di sebuah klinik kecil dekat Pasar Kedoya. Seharusnya ini hari liburnya, tapi ia tak kuasa menolak saat permintaan datang dari Windra—bagian pemesanan.
“Mas, ada ibu-ibu mau antar ke klinik. Katanya darurat. Tapi nggak bisa pakai mobil baru, minta pakai unit lama, katanya ada kenangan.”
Ravo awalnya heran. Mobil tua itu sudah jarang dipakai. Suspensinya keras, AC-nya kadang hidup kadang tidak. Tapi begitu melihat wajah penumpangnya tadi, ia paham. Seorang ibu lanjut usia, memegang foto hitam putih dua anak kecil, dan berkata lirih, “Dulu, ayah mereka biasa antar kami dengan mobil ini. Hari ini, salah satu dari mereka lahiran.”
Perjalanan yang biasanya terasa berat mendadak jadi ringan. Ravo menyusuri jalanan Kebon Jeruk dengan hati-hati, melewati SPBU yang dulu sempat terbakar, gang sempit yang menghubungkan ke Joglo, dan rumah-rumah besar yang kini berganti jadi kafe kekinian.
Dalam perjalanan itu, ibu tadi bercerita.
“Suami saya meninggal waktu pandemi. Tapi dia sempat bilang, nanti kalau saya antar cucu pertama ke dunia, dia mau ada. Tapi, ya... cuma bisa dengan mobil ini. Entah kenapa, rasanya dia masih ada.”
Ravo diam. Sebagai sopir, ia tahu tugasnya hanya mengantar. Tapi hari itu, ia jadi saksi diam dari sebuah cinta yang tak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata.
Setiba di klinik, sang ibu menangis. Bukan karena sedih, tapi karena bayi mungil yang lahir dengan selamat... dan suara klakson mobil tua itu yang entah mengapa, berbunyi sendiri seolah menyambut.
Ravo hanya menatap langit, dan berkata dalam hati,
“Kalau memang benar kau ada, Pak... janji Ibu sudah kau penuhi.”
Comments
Post a Comment